Abu Zaid Rembang
Islam ajaran yang sempurna dan mudah dijalankan. Ga bikin ruwet apalagi sampai bangkrut banyak utang. Misal nya kewajiban yang diperintahkan terkait harta maka selalu disertai wajib bagi yang mampu. Misalnya haji, umroh apalagi zakat, mesti bagi yang mampu.
Termasuk walimah, maka semampunya. Ga usah maksain sampai utang utang. Kemudian habis nikah trus ga punya uang untuk sekedar hidup layak. Misalnya untuk ngontrak rumah dll. Malah pusing sampai stres mikirin utang.
Apalagi kalo mbela mbelan walimah harus mewah nyewa gedung mewah, undangan ribuan, catering mewah, dll hanya demi gengsi biar wah dihadapan manusia. Akhirnya ngomel ngomel stres karena jumlah uang amplopan dari kotak ajaib ga sesuai harapan. Benar benar sikap yang sangat bodoh dan bebal. Mengapa bebal? Sudah tahu betapa mewahpun walimahmu tetap ada orang yang mencacat. Ga mungkin sempurna.
Jangankan hanya walimah kelas kampung bahkan pesta nikah milyaran gaya konglomerat saja masih ada yang nyacat. Lha, apa sikap tetap ingin kesohor asal tekor itu sikap apa kalo bukan bodoh dan bebal? Akhirnya stres sendiri trus ribut sama istri dan mertua terus cerai bahkan ada yang bundir segala. Na’udzubillah min dzalik!
Walimah itu secara syariat termasuk sedekah sebagai bentuk syukuran. Jadi walimah sesuai kemampuan saja. Ga usah maksakan diri. Tempatnya misalnya bisa masjid atau di rumah saja. Yang diundang sesuai kemampuan saja ga harus banyak banyak. Dan ga usah Nerima amplopan. Karena ini sedekah. Mana ada sedekah kok mimpi amplop? Salah lagi kan?
Alhamdulillah saya pernah beri contoh kawan kawan. Saya tawar kan siapa yang mau saya urus nikahnya dengan pahe (paket hemat) mulai dari nyari calon suami atau istri, hingga aqad nikah dan walimah serta surat nikah satu juta saja. Itu tahun 2002 an. Kalo sekarang mungkin ya sekitar 3-4 jutaan. Dan Alhamdulillah sempat menikahkan empat pasangan suami istri seingat saya. Alhamdulillah, ga ada utang, ga ada amplop. Selesai nikah masih ada uang untuk ngontrak atau kalo mampu beli rumah. Atau mau usaha dll.
Nah kawan kawan yang begini baru pintar. Ga bodoh dan bebal yang mencari cari cara hidup susah dan stres dalam neraka rumah tangga yang dibuat sendiri. Nah tambah lagi kan nampak bebalnya? 😊
Maaf sobat jika bahasa saya kasar. Soalnya kesel banget liat bahkan pengemban dakwah juga ga lepas dari menjebakkan diri situasi paska nikah yang membagongkan ini.
Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat pada ‘Abdurrahman ada bekas warna kuning pada pakaiannya (bekas wewangian dari wanita yang biasa dipakai ketika pernikahan, pen.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Apa yang terjadi padamu wahai ‘Abdurrahman?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita Anshar.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?” ‘Abdurrahman menjawab, “Aku memberinya mahar emas sebesar sebuah kurma (sekitar lima dirham).” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika itu,
أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ
“Lakukanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari, no. 2049, 3937 dan Muslim, no. 1427. Lihat Syarh Shahih Muslim, 7:193).
Maka walimahlah kita sesuai kemampuan. Jika mampunya hanya dengan ayam ya ayam. Kalo mampunya kambing ya kambing. Bahkan jika mampu dengan sapi, kerbau atau unta sebaiknya tetap kambing saja nanti uang sisanya bisa kita infaqkan untuk dakwah atau kita sumbangkan kepada muslim palestina yang kelaparan. Bukankah itu lebih baik?
Yang paling penting justru semua proses sejak mencari calon suami atau istri, hingga khitbah, kemudian aqad nikah dan walimah semua dijalankan sesuai syariat Islam. Yang paling banyak dilanggar dari syariat adalah adanya sesajen, prosesi adat yang bertentangan dengan aqidah, campur baur tamu laki laki perempuan, hiburan yang maksiat semisal elektone dan dangdutan, serta action untuk foto foto campur baur.
Ngaji yuk biar pintar dan makin taat.[]